Pengertian Kepemimpinan
Ada beberapa pengertian kepimpinan menurut para ahli,
yaitu:
Robbins (2003: 163)
“Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi
suatu kelompok ke arah pencapaian (tujuan). Pendapat ini memandang semua
anggota kelompok/organisasi sebagai satu kesatuan, sehingga kepemimpinan diberi
makna sebagai kemampuan mempengaruhi semua anggota kelompok/organisasi agar
bersedia melakukan kegiatan/bekerja untuk mencapai tujuan kelompok/organisasi”.
Rivai (2004:2)
“Kepemimpinan merupakan proses
mempengaruhi dalam menentukan organisasi, memotivasi perilaku pengikut untuk
mencapai tujuan, mempengaruhi untuk memperbaiki kelompok dan budayanya”.
Thoha (2007:9)
“Kepemimpinan adalah kegiatan untuk mempengaruhi perilaku orang lain, atau seni
mempengaruhi perilaku manusia baik perorangan maupun kelompok”.
Berdasarkan pendapat
diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi
bawahan atau kelompok untuk bekerja sama mencapai tujuan organisasi atau
kelompok.
Jenis-jenis kepemimpinan
1. Demokratis
Kepemimpinan
demokratis adalah jenis kepemimpinan
dimana seorang pemimpin memberikan wewenang secara luas kepada para bawahan. Jika ada
permasalahan selalu mengikutsertakan bawahan sebagai suatu tim. Pemimpin
memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab para bawahannya.
2. Otokratis
Jenis kepemimpinan seperti ini akan tampak seperti dictator. Segala
pembagian tugas dan tanggung jawab dipegang oleh si pemimpin yang otoriter
tersebut, sedangkan para bawahan hanya melaksanakan tugas yang telah diberikan.
Gaya ini ditandai dengan kebergantingan pada yang berwenang dan menganggap
bahwa bawahan hanya akan melakukan sesuatu jika diperintah... Umumnya gaya kepemimpinan seperti ini dilaksanakan pada
negara-negara yang menganut asas komunis.
3. Partisipatif
Kepemimpinan
dengan jenis seperti ini dipakai untuk memotifasi
bawahan melalui pelibatan dalam pengambilan keputusan. Pemimpin mengharapkan
agar karyawan mampu bekerja sama dalam pencapaian tujuan. Gaya kepemimpinan
seperti cocok dilakukan pada perusahaan dimana keputusan harus dilaksanakan
bersama.
4. Birokratis
Jenis
kepemimpinan seperti ini adalah gaya yang patuh terhadap peraturan. Para
pemimpin dengan gaya kepemimpinan birokratis menganggap bahwa segala kesulitan
akan dapat diatasi jika setiap orang mematuhi peraturan. Suatu sistem adalah
hal yang mutlak ada pada gaya kepemimpinan seperti ini. Jika dikaitkan dengan
dunia bisnis, gaya kepemimpinan yang umumnya menggunakan cara kepemimpinan
birokratis adalah para birokrat yang berada pada perusahaan Negara.
5. Permisif
Pemimpin yang mempunyai jenis kepemimpinan permisif akan
selalu berkeinginan untuk membuat setiap orang yang berada dalam kelompok puas. Jenis kepemimpinan seperti ini menganggap bahwa bila
orang-orang merasa puas dengan diri mereka sendiri dan orang lain, maka dengan
demikian organisasi akan berfungsi. Pemimpin yang permisif menginginkn agar
setiap orang merasa senang dalam organisasi.
6. Bebas
Tipe
kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasinya mampu
mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya masing-masing,
dengan sedikit mungkin pengarahan atau pemberian petunjuk dalam merealisasikan
tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas pokok organisasi.
Teori X dan Teori Y
Menurut McGregor organisasi
tradisional dengan ciri-cirinya yang sentralisasi dalam pengambilan keputusan,
terumuskan dalam dua model yang dia namakan Theori X dan Theori Y.
Teori X menyatakan bahwa
sebagian besar orang-orang ini lebih suka diperintah, dan tidak tertarik akan
rasa tanggung jawab serta menginginkan keamanan atas segalanya. Lebih lanjut
menurut asumsà teori X dari McGregor ini bahwa orang-orang ini pada hakekatnya adalah:
1. Tidak menyukai
bekerja
2. Tidak menyukai
kemauan dan ambisi untuk bertanggung jawab, dan lebih menyukai diarahkan atau
diperintah
3. Mempunyai
kemampuan yang kecil untuk berkreasi mengatasi masalah-masalah organisasi.
4. Hanya membutuhkan
motivasi fisiologis dan keamanan saja.
5. Harus di awasi secara ketat dan
sering di paksa untuk mencapai tujuan organisasi.
Untuk menyadari kelemahan dari
asumà teori X itu maka McGregor memberikan alternatif teori lain yang dinamakan
teori Y. asumsi teori Y ini menyatakan bahwa orang-orang pada hakekatnya tidak
malas dan dapat dipercaya, tidak seperti yang diduga oleh teori X. Secara
keseluruhan asumsi teori Y mengenai manusia adalah sebagai berikut:
1. Pekerjaan itu pada
hakekatnya seperti bermain dapat memberikan kepuasan lepada orang. Keduanya bekerja
dan bermain merupakan aktiva-aktiva fisik dan mental. Sehingga di antara
keduanya tidak ada perbedaan, jira keadaan sama-sama menyenangka.
2. Manusia dapat
mengawasi diri sendiri, dan hal itu tidak bisa dihindari dalam rangka mencapai
tujuan-tujuan organisasi.
3. Kemampuan untuk
berkreativitas di dalam memecahkan persoalan-persoalan organisasi secara luas
didistribusikan kepada seluruh karyawan.
4. Motivasi tidak
saja berlaku pada kebutuhan-kebutuhan sosial, penghargaan dan aktualisasi diri
tetapi juga pada tingkat kebutuhan-kebutuhan fisiologi dan keamanan.
5. Orang-orang dapat
mengendalikan diri dan kreatif dalam bekerja jika dimotivasi secara tepat.
daftar pustaka
Kouzes, James M dan
Posner, Barry Z. 2004. Leadership The Challenge:
Tantangan Kepemimpinan. Alih Bahasa Wisnu Chandra Kristiaji. Edisi Ketiga.
Jakarta: Erlangga
Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan. Jakarta: PT.
Grafindo Persada, 1998