1. Dena Rachman,
Wanita Transgender Artis Cilik Renaldy
Dena Rachman jadi
perbincangan publik karena wanita cantik ini sebenarnya adalah mantan artis
cilik bernama Renaldy yang telah melakukan transgender. Bagaimana kisah hidup Dena Rachman
hingga memutuskan menjadi seorang wanita? Dena mengungkapkan bahwa sisi
feminimnya memang lebih menonjol sejak ia masih kecil dan sangat yakin bahwa
seharusnya ia hidup sebagai seorang wanita. Namun ada satu tahap rumit yang
harus Dena lewati, yaitu memberitahu orang tua. Walau begitu mantan presenter
Kru Cilik SCTV ini sudah siap dengan segala
resikonya, mulai dari diusir dari rumah, tidak dianggap anak lagi oleh orang
tuanya, hingga memilih mati. Ginna Rachman sang ibu pun tentu
saja terkejut dengan pengakuan Dena, namun akhirnya hanya bisa pasrah dengan
pilihan anaknya.
“Dena saat itu beritahu aku, ‘Mama aku mau ngomong,
aku memang begini adanya. Terserah Mama mau anggap aku tetap anak atau tidak
atau aku keluar dari sini atau aku mati aja‘,” kata Ginna. ”Cuma aku
arahkan dia, kalau memang itu pilihan kamu, go a head. Tapi aku
arahkan, sekolah kamu harus bener.”
Sampai saat ini Dena masih kerap mendapat tudingan
negatif dari masyarakat. Alumni UI ini bahkan dituduh melakukan operasi macam-macam agar
terlihat lebih cantik untuk menyempurnakan penampilannya sebagai seorang
wanita. Tapi, apa tanggapan Dena?
“Aku begini dari lahir. Everything is original,”
kata Dena yang mulai berdandan full sebagai wanita sejak masuk
bangku kuliah. ”Tubuh aku begini karena memang dari Mama. Nggak (operasi)
sama sekali.”
ANALISIS KASUS :
Analisis
kasus ini menggunakan Teori
Erich Erikson yaitu
Pasca-Aliran Freud (Post-Freudian) dimana subjek mengalami gangguan pada tahap
perkembangan kepribadiannya. Erickson adalah orang yang menyumbangkan istilah
kritis identitas. Teori yang dikemukakan Erickson mengembangkan tahapan
perkembangan anak-anak Freud menjadi remaja, masa dewasa, dan usia lanjut.
Erickson menyatakan bahwa tiap tahap, perjuangan psikososial spesifik
memberikaan kontribusi pada pembetukan kepribadian. Dari mulai remaja hingga
seterusnya, perjuangan tersebut berbentuk krisis identitas, yaitu titik balik
dalam hidup seseorang yang dapat memperkuat atau memperlemah kepribadian.
Erikson menekankan pada pengaruh sosial dan sejarah untuk menguraikan tahapan
psikoseksual setelah masa kanak-kanak. Pada kasus ini, subjek mengalami
gangguan di salah tahap perkembangan psikoseksual. Dimana pada salah satu tahap
perkembangan menurut Erickson tidak dilewati secara baik. Pemahaman tentang
tahapan perkembangan psikoseksual erikson membutuhkan pemahaman tentang
beberapa poin. Pertama, pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip
epigenetik, yaitu satu bagian komponen yang tumbuh dari komponen lain dan
memiliki pengaruh waktu tersendiri, namun tidak menggatikan komponen
sebelumnya. Kedua,
di dalam tiap tahapan kehidupan terdapat interaksi berlawanan, yaitu konflik
antara elemen sintonik (harmpnis) dan elemen distonik (mengacaukan). Disini
rasa percaya berlawanan dengan rasa tidak percaya ( Basic Trust vs Mistrust),
mungkin ini yang dialami oleh seorang Dena Rachman dimana ia merasa tidak
percaya diri dengan keadaan fisiknya sebagai lelaki, dia cendrung nyaman dengan
penampilan sebagai wanita. Ketiga, ditiap tahap konflik antara
elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego yang
Erickson sebut sebagai kekuatan dasar (basic strength). Diantara rasa percaya
dan tidak percaya munculnya harapan, kualitas ego yang memungkinkan seseorang
untuk maju ketahap selanjutnya. Seorang yang memiliki “gangguan seksualitas”
akan berbenturan dengan kenyataan dan akan mengacaukan pada tahapan
perkembangan yang dilaluinya. Dia akan marasakan kebingungan akan dirinya
karena dia mempunyai kekuatan dasar atau kekuatan ego yang tidak sesuai dengan
kenyataan dirinya. Keempat, terlalu sedikitnya kekuatan pada satu
tahap mengakibatkan patologi inti (core pathology) pada tahap tersebut dan
setiap tahap memiliki potensi patologi inti. Biasanya yang terjadi seorang anak
yang tidak memperoleh cukup harapan selama masa bayi akan berlawanan dari harapan.
Orang yang mengalami transgender pada masa kecilnya biasanya tidak diharapkan
untuk tumbuh menjadi apa yang telah dimilikinya. Seseorang terlahir sebagai
laki-laki namun pengharapan orang tua pada si anak tsb menjadi seorang wanita
dan orang tuanya juga memperlakukan sebagai seorang anak perempuan. Hal ini
bisa terjadi dan bisa menjadi penyebab seseorang yang mengalami ganguan
seksualitas dan memutuskan untuk trans gender.Kelima, kedelapan tahap
perkembangan Erickson tidak hanya mengacu pada tahap psikososial, namun juga
tak pernah meninggalkan spek biologis dalam perkembangan manusia. Tidak hanya
karena lingkungan sosial seseorang menjadi trans gender tapi juga ada faktor
biologis dalam dirinya. Seseorang bisa saja terjebak didalam tubuh yang tidak sesuai
dengan kepribadiannya, dalam kasus ini Dena mempunyai lebih banyak hormon
perempuan yang dihaslkan dari pada hormon laki-laki. Hal itu yang menyebabkan
dia menjadi suka berdandan dan suka segala sesuatu yang menjadi kesukaan
perempuan. Keenam, peristiwa peristiwa ditahap sebelumnya tidak
menyebabkan perkembangan kepribadian selanjutnya. Ketujuh,
selama tiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya perkembangan
kepribadian ditandai oleh krisis identitas yang Erickson sebut sebagai “titik
balik”. Krisis identitas ini terjadi pada tahap remaja, pada tahap ini
seseorang mengalami pubertas , remaja mencari peran baru untuk membantu mereka
menemukan jati diri, idenstitas seksual, ideologis dan pekerjaan mereka.
Disinilah tahap yang berperan dalam pengambilan keputusan siapa jati diri
seseorang karena pada tahap ini remaja mengalami masa identas versus
kebingungan idenitas. Seorang dena rachman juga mengalami krisis identitas, ia
memutuskan apa yang ia yakini dan apa yang dia percaya tentang dirinya. Ia merasa
bahwa jati dirinya sebagai seorang perempuan bukan sebagai seorang laki-laki.
Pilihan yang tentu saja sulit, ketika keluarganya mengetahui bahwa dia
dilahirkan sebagai seorang laki-laki dan untuk memutuskan untuk mengambil
langkah mengikuti kata hatinya juga merupakan suatu tahap yang sangat sulit.
Karena belum tentu keluarga dan lingkungan sosial mendukung tentang
keputusannya. Disinilah peran sosial dalam pembentukan kepribadian maupun untuk
membantu masa krisis identitas seseorang. Jika lingkungan sosial dan keluarga
mendukung apa yang menjadi keputusan denna, maka denna pun akan mudah memilih
jati diri yang sesuai dengannya. Hingga ia meumtuskan untuk tran gender.
Meskipun banyak orang yang masih bertanya tanya tentang dirinya, namun dena
cukup percaya diri karena ia mempunyai kekuatan dasar dalam dirinya sebagai
seorang perempuan dan juga mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya seperti
keluarga dan teman dekatnya. Dengan dukungan sosial iniliah yang membuat dena
menajadi lebih berani dalam memilih kariernya dan bisa menjadi seorang
transgender yang sukses.
2.Kesehatan mental yakni kondisi
sejahtera karena individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan,
bekerja dengan baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi
kelompoknya. Di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih
menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum
mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluargapun hanya menggunakan
kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia sendiri,
stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk
mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset
kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang
dipasung oleh keluarga dikarenakan stigma negatif, kurangnya informasi dan
pemahaman terkait kesehatan mental, serta kurangnya fasilitas penanganan yang
memadai. Penanggulangannya dengan pemerintah memberikan sosialisasi
tentang apa itu kesehatan mental, dan bagaimana menanggulanginya seiring dengan
banyaknya tuntutan hidup di kalangan masyarakat yang sering kali membuat terganggunya
kesehatan mental apalagi di kalangan bawah yang hidup serba kekurangan membuat
rentannya seseorang terkena gangguan mental dan juga menambahkan tenaga
psikolog klinis untuk mengatasi masalah kesehatan mental khususnya di Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar