Sabtu, 18 Juni 2016

Kesehatan Mental

1. Dena Rachman, Wanita Transgender Artis Cilik Renaldy
Dena Rachman jadi perbincangan publik karena wanita cantik ini sebenarnya adalah mantan artis cilik bernama Renaldy yang telah melakukan transgender. Bagaimana kisah hidup Dena Rachman hingga memutuskan menjadi seorang wanita? Dena mengungkapkan bahwa sisi feminimnya memang lebih menonjol sejak ia masih kecil dan sangat yakin bahwa seharusnya ia hidup sebagai seorang wanita. Namun ada satu tahap rumit yang harus Dena lewati, yaitu memberitahu orang tua. Walau begitu mantan presenter Kru Cilik SCTV ini sudah siap dengan segala resikonya, mulai dari diusir dari rumah, tidak dianggap anak lagi oleh orang tuanya, hingga memilih mati. Ginna Rachman sang ibu pun tentu saja terkejut dengan pengakuan Dena, namun akhirnya hanya bisa pasrah dengan pilihan anaknya.
“Dena saat itu beritahu aku, ‘Mama aku mau ngomong, aku memang begini adanya. Terserah Mama mau anggap aku tetap anak atau tidak atau aku keluar dari sini atau aku mati aja‘,” kata Ginna. ”Cuma aku arahkan dia, kalau memang itu pilihan kamu, go a head. Tapi aku arahkan, sekolah kamu harus bener.”
Sampai saat ini Dena masih kerap mendapat tudingan negatif dari masyarakat. Alumni UI ini bahkan dituduh melakukan operasi macam-macam agar terlihat lebih cantik untuk menyempurnakan penampilannya sebagai seorang wanita. Tapi, apa tanggapan Dena?
“Aku begini dari lahir. Everything is original,” kata Dena yang mulai berdandan full sebagai wanita sejak masuk bangku kuliah. ”Tubuh aku begini karena memang dari Mama. Nggak (operasi) sama sekali.”

ANALISIS KASUS :
Analisis kasus ini menggunakan Teori Erich Erikson yaitu Pasca-Aliran Freud (Post-Freudian) dimana subjek mengalami gangguan pada tahap perkembangan kepribadiannya. Erickson adalah orang yang menyumbangkan istilah kritis identitas. Teori yang dikemukakan Erickson mengembangkan tahapan perkembangan anak-anak Freud menjadi remaja, masa dewasa, dan usia lanjut. Erickson menyatakan bahwa tiap tahap, perjuangan psikososial spesifik memberikaan kontribusi pada pembetukan kepribadian. Dari mulai remaja hingga seterusnya, perjuangan tersebut berbentuk krisis identitas, yaitu titik balik dalam hidup seseorang yang dapat memperkuat atau memperlemah kepribadian. Erikson menekankan pada pengaruh sosial dan sejarah untuk menguraikan tahapan psikoseksual setelah masa kanak-kanak. Pada kasus ini, subjek mengalami gangguan di salah tahap perkembangan psikoseksual. Dimana pada salah satu tahap perkembangan menurut Erickson tidak dilewati secara baik. Pemahaman tentang tahapan perkembangan psikoseksual erikson membutuhkan pemahaman tentang beberapa poin. Pertama, pertumbuhan terjadi berdasarkan prinsip epigenetik, yaitu satu bagian komponen yang tumbuh dari komponen lain dan memiliki pengaruh waktu tersendiri, namun tidak menggatikan komponen sebelumnya. Kedua, di dalam tiap tahapan kehidupan terdapat interaksi berlawanan, yaitu konflik antara elemen sintonik (harmpnis) dan elemen distonik (mengacaukan). Disini rasa percaya berlawanan dengan rasa tidak percaya ( Basic Trust vs Mistrust), mungkin ini yang dialami oleh seorang Dena Rachman dimana ia merasa tidak percaya diri dengan keadaan fisiknya sebagai lelaki, dia cendrung nyaman dengan penampilan sebagai wanita. Ketiga, ditiap tahap konflik antara elemen distonik dan sintonik menghasilkan kualitas ego dan kekuatan ego yang Erickson sebut sebagai kekuatan dasar (basic strength). Diantara rasa percaya dan tidak percaya munculnya harapan, kualitas ego yang memungkinkan seseorang untuk maju ketahap selanjutnya. Seorang yang memiliki “gangguan seksualitas” akan berbenturan dengan kenyataan dan akan mengacaukan pada tahapan perkembangan yang dilaluinya. Dia akan marasakan kebingungan akan dirinya karena dia mempunyai kekuatan dasar atau kekuatan ego yang tidak sesuai dengan kenyataan dirinya. Keempat, terlalu sedikitnya kekuatan pada satu tahap mengakibatkan patologi inti (core pathology) pada tahap tersebut dan setiap tahap memiliki potensi patologi inti. Biasanya yang terjadi seorang anak yang tidak memperoleh cukup harapan selama masa bayi akan berlawanan dari harapan. Orang yang mengalami transgender pada masa kecilnya biasanya tidak diharapkan untuk tumbuh menjadi apa yang telah dimilikinya. Seseorang terlahir sebagai laki-laki namun pengharapan orang tua pada si anak tsb menjadi seorang wanita dan orang tuanya juga memperlakukan sebagai seorang anak perempuan. Hal ini bisa terjadi dan bisa menjadi penyebab seseorang yang mengalami ganguan seksualitas dan memutuskan untuk trans gender.Kelima, kedelapan tahap perkembangan Erickson tidak hanya mengacu pada tahap psikososial, namun juga tak pernah meninggalkan spek biologis dalam perkembangan manusia. Tidak hanya karena lingkungan sosial seseorang menjadi trans gender tapi juga ada faktor biologis dalam dirinya. Seseorang bisa saja terjebak didalam tubuh yang tidak sesuai dengan kepribadiannya, dalam kasus ini Dena mempunyai lebih banyak hormon perempuan yang dihaslkan dari pada hormon laki-laki. Hal itu yang menyebabkan dia menjadi suka berdandan dan suka segala sesuatu yang menjadi kesukaan perempuan. Keenam, peristiwa peristiwa ditahap sebelumnya tidak menyebabkan perkembangan kepribadian selanjutnya. Ketujuh, selama tiap tahapan, khususnya sejak remaja dan selanjutnya perkembangan kepribadian ditandai oleh krisis identitas yang Erickson sebut sebagai “titik balik”. Krisis identitas ini terjadi pada tahap remaja, pada tahap ini seseorang mengalami pubertas , remaja mencari peran baru untuk membantu mereka menemukan jati diri, idenstitas seksual, ideologis dan pekerjaan mereka. Disinilah tahap yang berperan dalam pengambilan keputusan siapa jati diri seseorang karena pada tahap ini remaja mengalami masa identas versus kebingungan idenitas. Seorang dena rachman juga mengalami krisis identitas, ia memutuskan apa yang ia yakini dan apa yang dia percaya tentang dirinya. Ia merasa bahwa jati dirinya sebagai seorang perempuan bukan sebagai seorang laki-laki. Pilihan yang tentu saja sulit, ketika keluarganya mengetahui bahwa dia dilahirkan sebagai seorang laki-laki dan untuk memutuskan untuk mengambil langkah mengikuti kata hatinya juga merupakan suatu tahap yang sangat sulit. Karena belum tentu keluarga dan lingkungan sosial mendukung tentang keputusannya. Disinilah peran sosial dalam pembentukan kepribadian maupun untuk membantu masa krisis identitas seseorang. Jika lingkungan sosial dan keluarga mendukung apa yang menjadi keputusan denna, maka denna pun akan mudah memilih jati diri yang sesuai dengannya. Hingga ia meumtuskan untuk tran gender. Meskipun banyak orang yang masih bertanya tanya tentang dirinya, namun dena cukup percaya diri karena ia mempunyai kekuatan dasar dalam dirinya sebagai seorang perempuan dan juga mendapat dukungan dari lingkungan sekitarnya seperti keluarga dan teman dekatnya. Dengan dukungan sosial iniliah yang membuat dena menajadi lebih berani dalam memilih kariernya dan bisa menjadi seorang transgender yang sukses. 

2.Kesehatan mental yakni kondisi sejahtera karena individu menyadari potensi dirinya, dapat mengatasi tekanan, bekerja dengan baik dan produktif, serta mampu memberikan kontribusi bagi kelompoknya. Di negara yang sedang berkembang, isu kesehatan mental masih menjadi topik yang terpinggirkan. 4 dari 5 penderita gangguan mental belum mendapatkan penanganan yang sesuai dan pihak keluargapun hanya menggunakan kurang dari 2% pendapatannya untuk penanganan penderita. Di Indonesia sendiri, stigma terhadap penderita menyebabkan para penderita semakin sulit untuk mendapatkan penanganan yang tepat dan terisolasi. Bahkan data dari riset kesehatan dasar menyebutkan bahwa pada tahun 2013 terdapat 56000 penderita yang dipasung oleh keluarga dikarenakan stigma negatif, kurangnya informasi dan pemahaman terkait kesehatan mental, serta kurangnya fasilitas penanganan yang memadai.  Penanggulangannya dengan pemerintah memberikan sosialisasi tentang apa itu kesehatan mental, dan bagaimana menanggulanginya seiring dengan banyaknya tuntutan hidup di kalangan masyarakat yang sering kali membuat terganggunya kesehatan mental apalagi di kalangan bawah yang hidup serba kekurangan membuat rentannya seseorang terkena gangguan mental dan juga menambahkan tenaga psikolog klinis untuk mengatasi masalah kesehatan mental khususnya di Indonesia.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar